HARI-HARI OMONG KOSONG “HARMOKO

Harmoko pada zamannya adalah bintang media yang selalu muncul setiap hari di koran dan televisi yang memberitakan aktivitasnya baik sebagai menteri penerangan ataupun sebagai ketua umum golkar. Harmoko menjadi menteri penerangan selama tiga periode, yaitu antara tahun 1983-1987. Ketika baru dilantik sebagai menteri penerangan di depan kolegan sesama wartawan pada tahun 1983, ia berujar bahwa “tidak akan membredel media massa”. Tetapi, ditangannya lah surat izin usaha penerbitan pers dikeluarkan atau dibatalkan. Terdapat 13 media massa yang dicabut izinnya pada 14 tahun kepemimpinannya di departemen enerangan.
Pada tahun 1992, Soeharto menunjuk Harmoko sebagai orang sipil pertama yang menjadi ketua umum golkar. Dalam hal ini, aksi panggung Harmoko menyumbang peningkatan suara golkar menjadi 75 % pada pemilu 1997, setelah sebelumnya hanya 60% pada pemilu 1992. Pada 21 Juni 1994, ia membrangus tiga media tanpa alasan yang jelas, media tersebut, yakni tempo, editor, dan detik.
Harmoko meyakinkan Soeharto bahwa rakyat menginginkannya sebagai presiden Republik Indonesia untuk periode ke-7 setelah keliling Indonesia. Meskipun loyalitasnya tidak diragukan lagi, pada pertengahan tahun 1997 Soeharto mengakhiri tiga periode kekuasaannya di departemen penerangan, dan berkedudukan sebagai menteri negara urusan khusus.Tak berhenti di situ, pada akhir tahun 1997 ia ditunjuk sebagai DPR oleh Soeharto. Namun, pada Maret 1998 keadaan menjadi lebih buruk, bersama runtuhnya rezim orde baru Harmoko menghilang dari publik dan pada 21 Mei 1998 Soeharto mengundurkan diri dari jabatannya sebagai presiden Republik Indonesia. Kini bekas ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) era 80-an itu hanya menghabiskan waktu bersama keluarga dan orang-orang terdekat. Akan tetapi, setiap senin dan kamis Harmoko masih sering menulis untuk korannya ‘Pos Kota’.
Eko Mariadi “Item” adalah wartawan lepas dan pengurus Aliansi Jurnalis Independen (AJI). AJI ialah organisasi wartawan yang didirikan pada Agustus 1994. Setelah departemen penerangan membredel majalah tempo, editor, dan tabloid detik, Item bersama tiga pekerja media lain divonis tiga tahun penjara karena menerbitkan majalah independen tanpa izin dari departemen penerangan. Kemudian, Bondan Winarno adalah wartawan yang membongkar skandal penipuan perusahaan tambang emas asal Kanada ‘Bre-X’ di Busang, Kalimantan Timur. Bondan menjadi salah satu korban ketika majalah tempo dibredel pemerintah karena memberitakan impor kapal perang bekas di Jerman Timur.
Selanjutnya, Aristides Katoppo adalah wartawan senior yang pernah kehilangan korannya. Pada tahun 1986 departemen penerangan menutup sinar harapan yang terbit sejak tahun 1961 karena memberitakan bisnis keluarga cendana. Seperti halnya majalah tempo. Koran sinar harapan bisa kembali terbit setelah rezim orde baru berakhir. Pada tahun 1992 Akhmad Kusaeni ditugaskan kantor berita ‘Antara’ untuk meliput berita mengenai menteri penerangan “Harmoko” yang diangkat sebagai ketua umum golkar. Setiap Sabtu dan Minggu selama 2,5 tahun Kusaeni mengikuti Harmoko keliling Indonesia.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kondisi Terkini Pasar "Kleco"

Resensi Novel "The Housekeeper & the Professor"

LAPORAN UTAMA "LIPUTAN UMUM DAN LIPUTAN KHUSUS BATIK"