Kondisi Terkini Pasar "Kleco"
“Riuhnya Pasar dan Melonjaknya Kebutuhan”
Pasar Sidodadi atau kerap disebut pasar “Kleco”, dibangun pada tahun 1940-an. Tepatnya berlokasi di kelurahan Karangasem, kecamatan Laweyan, Surakarta. Letaknya yang strategis, 200 m dari Jalan Slamet Riyadi menjadikannya ramai akan pembeli. Sebuah bangunan yang pasti memiliki keunikan tersendiri, tak terkecuali pasar Sidodadi ini.
Pasar ini unik dan menarik, karena terdapat satu tugu yang termasuk benda cagar budaya, yaitu “Tugu Talirogo”. Tugu Talirogo dapat ditemui di halaman depan ketika kita memasuki area pasar. Tugu tersebut dibangun atas dasar perjuangan perwira untuk kemerdekaan Republik Indonesia.
Kios-kios pasar ini menjual berbagai macam dan beragamnya barang dagangan, mulai dari makanan matang, sayur-sayuran, ikan segar maupun daging, sembako, baju, hingga aneka pernak-pernik sebagai hiasan. Tempat mengais rezeki, ribuan peluh menetes bersamaan.
Transaksi antara penjual dan pembeli bagaikan kicauan burung. Pembeli sekaligus penjual membutuhkan harga yang pas agar tidak rugi. Tak jarang, barter pun sering terjadi. Bahkan, rintihan pengemis kerap terlihat di segala penjuru pasar. Para pencopet seringkali menebar aksi di tengah-tengah keruhnya lalu lalang.
Lalu
lalang orang-orang memadati lahan penjualan, suara pun menyatu menjadi satu
membentuk irama layaknya sebuah nada. Rayuan, bujukan, dan tawaran saling
bersautan di sepanjang jalan itu. Deretan kios-kios menghiasi berpetak-petak
tanah. Tak hanya itu, lantai susun pun menambah fasilitas. Ricau dan padat
merayap menjadi satu suasana di pagi hari. Aroma khas pasar menebar di segala
sisi.
Teriknya matahari menjadi patokan para pedagang menjajakan barang dagangannya. Bahkan, banyak dari mereka pergi tak menunggu datangnya sang surya dan kembali pulang di tengah gelapnya malam.
Teriknya matahari menjadi patokan para pedagang menjajakan barang dagangannya. Bahkan, banyak dari mereka pergi tak menunggu datangnya sang surya dan kembali pulang di tengah gelapnya malam.
Mengupas
mengenai pasar, sedikit perbincangan kami akan harga kebutuhan sehari-hari. Beliau
bernama Ibu Tiwik, pedagang sayuran yang sebelumnya membeli barang dagangan di
pasar Kleco dan mejajakannya kembali. Tidak hanya sekadar membeli untuk kebutuhan
keluarganya sendiri, ia pun menjajakannya kembali, tentunya dengan harga yang
tidak mematikan pembeli atau pelanggan. Percakapan ringan kami kali ini tertuju
pada beberapa topik, yaitu harga sayuran dan kondisi riuhnya pasar “Kleco” saat
ini.
"Harga kebutuhan tidak normal, terkadang naik dan juga turun", ujarnya.
"Harga kebutuhan tidak normal, terkadang naik dan juga turun", ujarnya.
Terbukti
tak sedikit kebutuhan dapur melonjak, seperti cabai rawit yang dibandrol dengan
harga Rp. 20.000; per kg-nya, cabai besar Rp. 15.000; per kg, bawang merah Rp.
40.000; per kg, dan bawang putih Rp. 50.000; per kg. Aneka sayur-mayur pun tak
mau kalah, seikat bayam menjadi Rp. 3.000; dan seikat sawi hijau Rp. 5.000;
untuk ukuran kecil, serta Rp. 8.000; untuk seikat sawi hijau ukuran besar. Tak
cukup itu, kangkung dijual dengan harga Rp. 2.000; seikat-nya,
serta terong turut
melonjak, kisaran Rp. 7.000; per kg.
"Pasar selalu ramai pada pagi hari, ketika siang sudah mulai sepi", ungkapnya.
"Pasar selalu ramai pada pagi hari, ketika siang sudah mulai sepi", ungkapnya.
Menurutnya,
hiruk pikuk suara menebar hangat di seluruh penjuru pasar. Pasar ini beroperasi
mulai pukul 05.00 WIB sampai dengan sore pukul 16.00 WIB. Di pagi hari deretan kendaraan
mulai memadati sepetak tanah, dengan membayar tarif Rp. 2000; untuk sepeda
motor, dan Rp. 1000; untuk sepeda kayuh kita dapat memasuki pasar, dengan
lenggang tanpa menambah sesaknya kondisi pasar, tentunya dengan berjalan kaki.
Meskipun beroperasi hingga sore hari, seringkali pada siang hari, pasar ini sudah
sepi akan pembeli.

Komentar
Posting Komentar