LAPORAN UTAMA "LIPUTAN UMUM DAN LIPUTAN KHUSUS BATIK"
LIPUTAN UMUM
MENGENAL BATIK PEDALAMAN DAN BATIK PESISIR

Salah kostum bukanlah hal yang lumrah bagi sebagian
besar masyarakat. Pakaian memiliki kesannya sendiri, salah satunya ialah kain
batik. Setiap motif memiliki makna tersendiri. Misalnya, dalam acara besar
seperti pernikahan, orang akan menggunakan motif-motif yang lebih berani dengan
warna yang mencolok. Hal ini berbeda saat kita menghadiri takziah, orang
cenderung menggunkan motif-motif yang sederhana dengan warna dasar kalem yang
dipilihnya.
Adapun, secara garis besar, batik di tanah Jawa dibedakan menjadi 2 jenis, yakni batik pesisir dan batik pedalaman. Batik pesisir banyak dihasilkan di wilayah-wilayah yang berada di tepi pantai sedangkan batik pedalaman merupakan ragam busana batik yang dihasilkan di wilayah-wilayah di daratan, terutama di pusat-pusat peradaban Jawa, yakni istana yang diwakili oleh Surakarta dan Yogyakarta.
Seperti yang
telah dibahas diawal, batik pedalaman merupakan batik yang dihasilkan di
lingkungan keraton, pemakaian ragam busana batik memiliki aturan khusus yang
terkait dengan adat dan tata sopan santun di kalangan istana. Busana batik yang
dikenakan oleh Raja dan keluarga inti istana, misalnya, tentu saja tidak sama
dengan budana batik yang dipakai oleh para abdi dalem kerajaan
Corak motif batik yang berasal dari Keraton pada umumnya memiliki maksud khusus yang ingin disampaikan oleh pembuat motif batik tersebut kepada masyarakat luas. Sedangkan motif batik yang mereka buat jarang memiliki makna dan juga tidak memiliki aturan yang harus dipatuhi ketika membuat baju batik dengan motif-motif yang mereka inginkan
“Biasanya warna batik keraton itu lebih dominan dengan warna coklat kemerahan, biru, hitam. berbeda dengan batik pesisir warna motif yang digunakan lebih beragam mbak seperti hijau, biru, merah kuning warna-warna ngejreng begitu.” tutur Putra Dwipa (20th) pedangang batik di BTC Solo.
Batik pesisir yaitu batik yang berkembang diluar keraton. Dalam sejarah batik pesisir, seperti batik pekalongan, batik tegal, batik indramayu, dan batik ceribon penyebarannya ke selatan, seperti kerawang, ciamis, tasikmalaya dan garut. Hampir secara keseluruhan, pola batiknya mengambil pola hias pada Keraton Cirebon.
“Untuk persebaran di Surakarta sudah luar
sekali, misal mbak mau cari batik motif keraton ya ke Kauman, Danar Hadi,
Laweyan” Susi (44th) pedagang batik di Pasar Klewer.
Seperti tutur Susi, 44th persebaran batik di Surakarta sudah sangat luas, mengingat Surakarta dikenal dengan surganya wisata batik. Batik-batik dengan motif keraton dengan mudah didapatkan di Kampung Batik Laweyan, Kampung Batik Kauman, House of Danar Hadi atau Lumbung Batik. Sedangkan batik dengan motif pesisir mudah sekali didapatkan di BTC (Benteng Trade Center), PGS (Pusat Grosir Solo), dan Pasar Klewer.
LIPUTAN KHUSUS
METAMORFOSIS BATIK
Apa yang terbesit di balik kata
batik? Batik sangatlah identik dengan budaya ciptaan masyarakat Jawa. Batik
juga erat hubugannya dengan busana kebesaran orang keraton, atau mungkin
disandingkan dengan nama besar Jogja dan Surakarta. Dewasa ini batik di luar
keraton, yakni kampung batik Kauman bertransformasi menjadi seni terapan yang
kreatif. Dulu, batik hanya dijumpai sebagai jarit yang digubah menjadi
pakaian tradisional. Pada masa kini, banyak produk industri kreatif yang
berkolaborasi dengan batik. Dalam dunia fesyen, batik adalah bakal yang mampu
disulap menjadi pakaian yang kekinian yang mengundang perhatian generasi
muda. Banyak butik batik dan kafetaria menarik yang mengisi sudut-sudut
kampung batik Kauman.
Oleh seniman kampung batik Kauman,
batik di luar keraton dilahirkan kembali dalam wujud kreatif bernilai seni
dan ekonomi tinggi. Sebagaimana yang kita jumpai, batik dikreasikan menjadi
tas, sepatu, bantal, gantungan kunci, menjadi hiasan dinding rumah dan
sebagainya. Wujud kreasi batik-batik yang ada di luar keraton memberikan
gairah sekaligus warna di Kauman. Kehadiran batik di luar keraton menjadi
wujud semangat yang terbarukan. Esensi batik adalah bukan lagi sebagai kain
yang menjadikan masyarakat Jawa terbagi dalam kamar-kamar kasta. Batik membawa
pesan yang beragam, tidak hanya kesan orang berbudaya dan sakral. Jauh dari
kesan tersebut, lahir batik yang bermakna lebih bebas, dan dinamis. Pemaknaan
tersebut muncul karena batik tumbuh dan besar di balik tembok tebal keraton.
Tak ada tatanan keraton yang mampu membatasi ruang gerak batik untuk
bermetamorfosis
LIPUTAN KHUSUS
Mengulik lebih dalam Wastra Batik Ndalem Kasunanan Surakarta
Ingin tahu lebih jauh ageman yang
dipakai di dalam Keraton Surakarta? Simak penjelasan berikut!
Pakem akan
sarat makna spiritual, batik Keraton dihubungkan dengan corak larangan.
Sebagai penentu kasta, corak tersebut hanya digunakan raja beserta keluarga
dekatnya.
Di Keraton
Surakarta, peraturan tersebut diumumkan pertama kali melalui maklumat ‘Sunan
Solo’ pada tahun 1769, 1784, dan 1790. Isi maklumat menyebutkan beragam
corak, seperti sawat, parang rusak, cemukiran, dan udan liris.
Wastra
batik selalu menampakkan keindahan abadi dan nilai-nilai yang erat kaitannya
dengan latar belakang penciptaan, penggunaan, maupun penghargaan sang
pemakai. Sehingga, batik menjadi simbol atau identitas.
Lingkup
Keraton memiliki aturan khusus tentang pemakaian batik. Selain didasarkan
pada status sosial atau kasta, pemakaian batik juga berpatokan pada suatu
acara yang digelar. Terlihat dalam konteks “acara khusus” dimana batik yang
digunakan haruslah berhubungan dengan harapan atau berkah yang disimbolisasi
lewat desain batik.
Desain
batik Kasunanan Surakarta dihubungkan dengan kultur Hindia-Jawa. Terlihat
dalam ragam desain Parang Barong, Parang Curiga, Parang Sarpa, Ceplok Burba,
Ceplek Lung Kestlop, Candi Luhur, Srikaton, dan Bondhet.
Awalnya
pembuatan batik Keraton dibuat khusus untuk keluarga raja yang dilakukan oleh
putri-putri Keraton, namun seiring kebutuhan yang meningkat diatasi dengan
pembuatan batik di luar Keraton, salah satunya di Kauman. Soim, Bendahara
Paguyuban Kampung Batik Laweyan, mengatakan bahwa secara umum perbedaan
mendasar batik hanya pada warna, batik Keraton cenderung pakem,” katanya,
Minggu (13/10).
Ciri khas
batik Keraton Surakarta, antara lain: memiliki kejenuhan isen halus,
tambalan, meredamnya dengan keindahan keseluruhan yang besar, warna-warna
yang dipilih lembut dengan paduan harmonis. Adapun dari segi corak, batik
Keraton cenderung simbolis statis dan magis dengan jumlah warna yang terbatas
pada cokelat soga dan biru nila di atas latar putih atau putih gading. Berikut motif batik sesuai
protokoler Keraton Surakarta:
(1) Batik Parang Rusak
Motif ini dipakai oleh
bangsawan yang bergelar Kanjeng Gusti Pangeran Aryo Adipati (KGPAA), Pangeran
Putra, Pangeran Sentana dan Sentana dalem yang berpangkat bupati riya
nginggil yang bergelar Kanjeng Raden Mas Haryo (KRMH).
![]() (2) Batik Udan Liris
Motif batik ini
dipakai oleh pepatih dalem.
![]() (3) Batik Rejeng ![]()
(4) Batik Tambal Kanoman
Motif ini dikenakan
sebagai Batikan Kampuh “Dodotan” para Bupati dan seragam Bupati Anomserta
juru tulis kantor di lingkungan Kabupaten.
![]() (5) Batik Semen Latar Putih
Motif ini dipakai oleh
Abdi dalem berpangkat Bupati (Bupati Anom dalam dan luar).
![]() (6) Batik Padas Gempal
Motif ini dipakai oleh
Abdi dalem berpangkat Panewu atau Mantri dari golongan Sorogeni kebawah.
![]() (7) Batik Medhangan
Motif ini dipakai oleh
para Panewu atau Mantri ke bawah dari golongan.
![]() (8) Batik Kumitir
Motif ini digunakan
oleh para Panewu atau Mantri ke bawah dari golongan kanoman.
![]() (9) Batik Tambal Miring
Motif ini dipakai oleh
para Abdidalem yang berpangkat Panewu atau Mantri dari golongan Juru Tulis.
![]() (10) Batik Jamblang
Motif ini dipakai oleh
para Panewu/Mantri ke bawah dari golongan kadipaten Anom.
![]()
(11) Batik Ayam Puser
Motif ini dipakai oleh
Abdi dalem yang berpangkat Panewu atau Mantri ke bawah (dari golongan
Yogeswara/ Suranata/ Abdi dalem Ulama)
![]() (12) Batik Slobag
Motif ini di gunakan
para Abdi dalem Panewu/ Mantri ke bawah (dari golongan niyaga atau penabuh
gamelan).
![]() (13) Batik Wora-wari Rumpuk
Motif ini digunakan
para Abdi dalem Panewu/ Mantri ke bawah (golongan Pangrehpraja atau yang membawahi wilayah).
(14) Batik Krambil Secukil
Motif ini digunakan
para Abdidalem Panewu/ Mantri ke bawah (di bawah perintah Kepatihan).
![]()
(15) Kain Lurik Perkutut
Kain Lurik Perkutut
ialah kain yang dipergunakan sebagai bahan baju Abdi dalem berpangkat Jajar
Priyantaka.
![]() (16) Kain Sindur Kain Sindur (bukan batik) yaitu kain yang dipergunakan Abdi dalem Krisdastawa atau Canthang balung. ![]()
Sumber pendukung:
|
















Komentar
Posting Komentar